Berita

Toleransi dalam Bermadzhab


Ust. Dr. H. Endang Madali, MA
Pimpinan/Pengasuh
Pondok Pesantren Fajar

Kajian Shubuh:
TOLERANSI ANTAR MADZHAB

NGASAH (Ngaji Usai Shubuh)
Bersama:
Ust. Dr. H. Endang Madali, MA
Di Masjid al-Jihad
Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi
Ahad, 11 Muharram 1442 H/30 Agustus 2020 M

Biodata Pemateri

Nama : Ust. Dr. H. Endang Madali, MA
Hp. : 0813 8060 4256
E-Mail : [email protected]
PENGALAMAN ORGANISASI & BEKERJA
 Pengurus Yayasan Karimatul Hasanah Al-Mubarok (2000 – Sekarang)
 Murabbī dan Kader Hidayatullah (2001 – Sekarang)
 Sekretaris Umum DPD BKPRMI Kota Depok (2010 – Sekarang)
 Pengurus MUI Kota Depok (2013 – Sekarang)
 Dosen Tetap Pascasarjana Universitas Mathla’ul Anwar [UNMA] Banten (2018 – Sekarang)
 Pimpinan/Pengasuh Pondok Pesantren Fajar (2020 – Sekarang)
Ideologi Salafisme

Berkembangnya kelompok salafisme, merupakan ideologi salaf yang mengajarkan umat Islam agar mencontoh perilaku Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Kelompok salafisme ini mereformulasi (merumuskan) paham salafnya kepada aspek purifikasi (penyucian, pembersihan) agama, pemikiran sosio-politik, metode pendidikan, dan metode pemikiran. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: Neo Salafisme dan Dinamika Salafiyah (Depok: Gemala, 2019), 18).

Indonesia Mayoritas Muslim?

Bagi Abdullahi Ahmed an-Na’im (lahir 1946), pemikir Muslim asal Sudan, tidaklah terlalu tepat menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri dengan populasi Muslim terbanyak di dunia, karena orang Islam di Indonesia memiliki pemahaman dan praktik keislaman yang berbeda, yang sebagiannya justru tidak akan dianggap bagian dari tradisi Islam oleh Muslim di belahan dunia lain. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 20).

Perlunya Dibuka Ijtihad

Muḥammad ‘Abduh (1849-1909) mengatakan bahwa, hendaknya kita berhati-hati membaca buku-buku tafsir karya para mufasir sebelum kita, karena buku-buku tafsir tersebut ditulis pada alam dan tingkat intelektual masyarakat tertentu yang belum tentu sama dan serupa dengan suasana dan tingkat intelektual umat di zaman kita sekarang. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 44-45).

Historisasi Fikih

Pada prinsipnya, hukum Islam (fikih) bukan hanya bersifat a-historis saja, namun juga merupakan refleksi logis dari pergumulan berbagai situasi aktual yang kemudian melahirkan karya-karya fikih. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 65).

Toleransi Dalam Bermadzhab

Toleransi merupakan sikap atau tindakan objektif yang bersifat terbuka terhadap bagi siapa saja yang berbeda, apakah dari sisi ras, agama, ataupun kebangsaan, termasuk bebas dari berbagai kefanatikkan. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 69).

Perbedaan Sebuah Keniscayaan

Perbedaan dan keragaman merupakan sebuah keniscayaan yang telah dititahkan Tuhan dengan setiap makhluk-Nya. Tidak hanya sekadar perbedaan antar-agama, intra-agama, tetapi juga perbedaan dan keragaman di hampir semua makhluk di muka bumi; gunung, sungai, buah-buahan dan lain-lain. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 75).

Kemudahan Memahami Islam

Menurut Wahbah al-Zuḥaylī, bahwa Islam mudah untuk dipahami dari berbagai sisinya, baik akidah, ibadah, muamalah, undang-undang keluarga, hingga perekonomian yang telah diberikan konsep olehnya. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 83).

Aneka Ragam Penelitian

Beragamnya metodologi yang dikembangkan oleh para ulama, dan sumber pengambilan istinbāṭ (penetapan hukum) yang didasari ilmu pengetahuan, niscaya akan bertambah pula cakrawala pemikiran dan tumbuh keanekaragaman corak penelitian. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 85).

Hukum untuk Kemaslahatan

Penetapan syariah bertujuan mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Sebagaimana diungkapkan oleh Abū Isḥāq al-Shāṭibī, “al-aḥkām mashrū’atun li maṣāliḥ al-’ibād” (Hukum-hukum disyariatkan untuk kemaslahatan hamba). (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 87).
Antara Syariah, Fikih dan Toleransi

Keserasian antara syariah yang diusung dan fikih yang dilaksanakan serta sifat toleran yang dikedepankan niscaya memiliki kekayaan (tharwah) tersendiri dalam menyikapi Islam yang relevan dalam setiap waktu dan tempat, yaitu dengan prinsip “al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīm al-ṣāliḥ wa al-akhdhu bi al-jadīd al-aṣlaḥ” (memelihara yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik). (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 99).

Kekuatan Gerakan Salafiyah

Gerakan Salafiyah terkenal sejak masa Muḥammad ‘Abduh (1849-1905), namun embrio dari gerakan ini sudah ada sejak masa Aḥmad ibn Ḥanbal (780-855), Aḥmad ibn Ḥanbal selalu mengajak kepada umat Islam agar kembali kepada Al-Qur’an dan hadis Nabi saw, yang selanjutnya diserukan lagi oleh Ibn Taymīyah (1263-1328) dan Muḥammad ibn ‘Abd al-Wahhāb (1703-1792). Oleh karenanya ideologi Salafiyah ini menjadi kekuatan sebuah gerakan dalam mencapai kemurnian Islam. (Lihat, Endang Madali, Toleransi Dalam Bermadzhab: .., 121-122).

الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button